Purposive Sampling Adalah: Pengertian, Jenis & Contoh Penerapan
Ringkasan Cepat
Purposive sampling adalah teknik non-probability sampling di mana peneliti memilih sampel berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian, bukan secara acak. Ada 5 jenis utama (homogeneous, maximum variation, typical case, critical case, expert sampling), cocok untuk penelitian kualitatif/eksploratif, tapi hasilnya tidak bisa digeneralisasi secara statistik ke populasi umum.
Purposive Sampling Adalah
Purposive sampling adalah teknik non-probability sampling di mana peneliti memilih sampel berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian — bukan secara acak. Teknik ini juga disebut judgmental sampling, dan termasuk dalam kelompok non-probability sampling.
Purposive sampling paling banyak dicari karena penerapannya sangat luas — dari skripsi kualitatif sampai penelitian kuantitatif dengan populasi target yang sangat spesifik. Sebelum menerapkannya, pastikan kamu sudah memahami perbedaannya dengan teknik lain di Teknik Sampling (Hub).
Contoh Penerapan
Penelitian tentang pengalaman kerja jarak jauh hanya mengambil sampel karyawan yang sudah bekerja remote minimal 1 tahun — kriteria "minimal 1 tahun remote" inilah dasar purposive-nya, bukan diundi dari seluruh karyawan.
Contoh lain dari bidang kesehatan: penelitian tentang efektivitas suplemen zat besi hanya mengambil sampel pasien dengan kadar hemoglobin di bawah ambang batas tertentu — kriteria kadar Hb inilah yang menjustifikasi purposive sampling, bukan sekadar memilih pasien yang kebetulan mudah dihubungi (itu justru ciri convenience sampling).
Jenis-jenis Purposive Sampling
| Jenis | Fokus Pemilihan |
|---|---|
| Homogeneous sampling | Karakteristik yang sangat mirip, untuk mendalami satu kelompok spesifik |
| Maximum variation sampling | Sebervariasi mungkin, untuk menangkap rentang perspektif seluas mungkin |
| Typical case sampling | Kasus yang paling representatif dari fenomena yang diteliti |
| Critical case sampling | Kasus yang paling "kritis" — kalau berlaku di sini, kemungkinan besar berlaku di kasus lain |
| Expert sampling | Keahlian khusus partisipan di bidang yang diteliti |
- Homogeneous sampling: memilih partisipan dengan karakteristik yang sangat mirip, untuk mendalami satu kelompok spesifik secara detail — misalnya hanya mewawancarai ibu tunggal berusia 30-40 tahun untuk memahami pengalaman spesifik kelompok itu. - Maximum variation sampling: sengaja memilih partisipan sebervariasi mungkin untuk menangkap rentang perspektif seluas mungkin terhadap satu fenomena. - Typical case sampling: memilih kasus yang paling mewakili/representatif dari fenomena yang diteliti, bukan kasus ekstrem. - Critical case sampling: memilih kasus yang paling "kritis" — kalau sesuatu berlaku di kasus ini, kemungkinan besar berlaku juga di kasus lain. - Expert sampling: memilih partisipan berdasarkan keahlian khusus mereka di bidang yang diteliti, misalnya mewawancarai pakar kebijakan publik untuk penelitian tentang efektivitas regulasi tertentu.
Catatan dari Lukman, Statistical Analyst: Menulis "menggunakan purposive sampling" saja tidak cukup membuat bab metodemu solid di mata penguji — nama tekniknya bukan yang akan ditanyakan, tapi alasannya. Penguji hampir selalu bertanya "kriterianya apa dan kenapa?", jadi kekuatan bab metodemu sebenarnya ada di kriteria inklusi/eksklusi yang kamu tuliskan secara eksplisit, bukan di istilah teknisnya.
Kapan Dipakai
Penelitian kualitatif, penelitian eksploratif, atau saat populasi target sangat spesifik dan sulit diakses secara acak (misal: pakar di bidang tertentu, penderita penyakit langka).
Kelebihan
Efisien secara waktu/biaya, memastikan sampel benar-benar relevan dengan pertanyaan penelitian — tidak membuang sumber daya untuk mewawancarai/mensurvei orang yang tidak relevan dengan pertanyaan penelitian.
Keterbatasan
Rawan bias peneliti (kriteria pemilihan bisa secara tidak sadar mengarahkan hasil), dan hasil tidak bisa digeneralisasi secara statistik ke populasi umum — kesimpulan hanya berlaku untuk kasus/kelompok yang benar-benar diteliti, bukan populasi yang lebih luas.
Beda dengan Teknik Non-Probability Lain
Purposive berbeda dari convenience sampling karena ada kriteria eksplisit yang dijustifikasi secara metodologis (bukan sekadar "yang paling gampang dijangkau"), dan berbeda dari quota sampling karena tidak ada target jumlah per kategori yang harus dipenuhi — fokusnya pada relevansi kriteria, bukan proporsi. Lihat pembahasan lengkap kedua teknik itu di Non-Probability Sampling.
Kesalahan Umum
- Tidak menuliskan kriteria inklusi/eksklusi secara eksplisit — hanya menyebut "purposive sampling" tanpa detail kriteria membuat bab metode terlihat tidak solid dan rawan dipertanyakan penguji.
- Menyamakan purposive dengan convenience sampling karena keduanya sama-sama tidak acak — padahal purposive butuh justifikasi kriteria yang jelas terhubung ke pertanyaan penelitian.
- Menggeneralisasi hasil ke populasi umum di bab kesimpulan, padahal desain purposive sampling tidak mendukung generalisasi statistik semacam itu.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Referensi
- Patton, M.Q. (2002). Qualitative Research & Evaluation Methods (3rd ed.). SAGE.
- Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Siap Mengolah Data dengan Lebih Mudah?
Kalau kamu butuh kejelasan, panduan, atau mau kenal lebih dalam soal jasa kami.
Jadwalkan Meeting GratisTau teman yang butuh bantuan olah data juga? Ajak dia & dapat 10%, dia dapat diskon Rp50.000. Klik disini